“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan di ddalam pergantian siang dan malam hari terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi (orang yang disebut) ulil albab. Yaitu orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan ia selalu berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Kemudian dia mengatakan: Ya tuhanku tidak ada yang sia-sia segala yang Engkau ciptakan ini. Maha suci Engkau , maka hindarkanlah kami dari siksa api neraka”. (Q. S. Ali imran:190-191)
Dari
pernyataan diatas, tersirat suatu pengakuan yang mendalam bahwa memang tak ada
yang sia2 apa yang Allah ciptakan. “Kapankah seseorang bisa memiliki kesimpulan
bahwa segala sesuatu yang dia pelajari itu tidak sia-sia???” Jawabannya hanya
satu, yaitu ketika dia sudah sangat memahami tentang apa yang dia pelajari. Jika
sudah paham, barulah dia bisa mengatakan bahwa ternyata segala yang diciptakan
oleh Allah semuanya ada manfaatnya. Betapa mendalam kalimat ini…….
Orang yang
belum paham / mengerti tentang apa yang dia pelajari, maka ia tidak akan bisa
mengatakan bahwa sesuatu itu bermanfaat. Jadi jelas bahwa ayat2 Al-Qur’an dan
segala sesuatunya ini membutuhkan waktu yang panjang, bahwa seumur hidup kita
untuk dipelajari hingga bisa menyatakan bahwa segala sesuatu itu bermanfaat
alias tidak sia-sia,
Di ayat di atas,
sang Pemikir digambarkan selalu gelisah untuk bisa bertemu dengan Allah. Karena
itu ia selalu berpikir tentang
tanda-tanda kebesaran-Nya sepanjang hidupnya. Baik, sedang berdiri, duduk,
bahkan tidur-tiduran. Ketika ia sedang senang maupun sedang susah dan pada
segala aktivitas kehidupannya.
Sama seperti
kisah Nabi Ibrahim as. Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian, akhirnya nabi
Ibrahim mendapatkan satu kesimpulan bahwa Allah memang Maha Pencipta Yang Maha
Pintar dan Maha Bijaksana. Tak ada satu benda pun yang tidak bermanfaatn di
alam semesta ini. Barangkali, kalau aktifitas berpikirnya itu di bukukan, itu
akan menjadi sebuah informasi ilmu pengetahuan yang hebat dan dahsyat. Kenapa
demikian?? Ya, karena kesimpulannya mengatakan bahwa ia sangat faham dengan
fakta yang terserak di alam semesta ini, dan bisa berkata: Tidak sia-sia segala yang ada….
Begitulah
Allah memancing kita untuk mempelajari alam semesta ciptaan-Nya. Hasil akhirnya
bukannya sekadar kita puas dengan ilmu yang kita peroleh, melainkan kita
mendapatkan satu kesimpulan esensial, yaitu lebih mengenal Dzat, Sang Penguasa
Alam Semesta.
Seringkali kita
masih menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita adalah
sia-sia atau setidak-tidaknya adalah biasa2 saja. Tidak ada gunanya.Dan tidak
memberikan tanda-tanda bagi eksistensi serta keterlibatan Allah.
Pernahkah kita
berpikir tentang lebah?? Darimana ia memperoleh insting untuk ‘memproduksi’
madu dan ternyata bisa menjadi obat itu??Berapa nilai ekonomi dan kesehatan yang telah dihasilkan oleh serangga yang hidup
bergerombol bersama ratu lebah itu??
Bahkan bukan
hanya makhluk berupa binatang atau tumbuhan saja yang menarik untuk dipikirkan,
tetapi semua kejadian2 yang melingkupi kehidupan kita pun Insya Allah tidaklah
sia-sia. Semuanya mengandung pelajaran dan hikmah untuk kita ambil sebagai
pelajaran dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Ada kisah
yang mungkin bisa menambah keyakinan kita untuk lebih yakin bahwa Allahlah yang
menghendaki semuanya terjadi. Alkisah, pada suatu hari ada si fulan yang biasanya
setiap pagi, dia selalu berangkat ke toko tempat dia berjualan jam 07.00. Pada
hari itu, entah apa yang menyebabkan dia enggan berangkat pada jam seperti
biasanya. Dia sudah keluar rumah untuk berangkat tetapi ditundanya dan kembali
masuk rumah. Sejam kemudian dia baru menyeberang jalan menuju ke tokonya, dia
tertabrak mobil dan kemudian meninggal dunia..
Sepintas
kita akan mengatakan bahwa hal itu adalah biasa saja. Akan tetapi, kalau kita
cermati, kita lantas bisa bertanya-tanya:kenapa dia menunda kebiasaanya pergi
pukul tujuh pagi sehingga bertepatan dengan mobil yang melintas di jalan itu
dan kemudian menabraknya. Siapakah yang mebuat semua itu terjadi secara tepat
waktu??Padahal kalau kejadiaanya itu berbeda I menit saja, barangkali
kecelakaan itu tidak terjadi.
Dari contoh
di atas, rasanya memang tidak ada yang kebetulan. Semuanya berlangsung dalam skenario
yang sangat teliti dan ada hikmahnya, tidak ada yang sia-sia. Pemahaman yang
komprehensif terhadap segala sesuatu
justru akan membawa kita kepada kesimpulan yang terfokus pada Kekuasaan Allah,
Sang Maha Perkasa.
##ditulis
kembali dari buku karangan Agus Mustofa berjudul “ Pusaran Energi Ka’bah”,
semoga bermanfaat untuk lebih memahami hakikat kehidupan ini…Aamiin.




