Bismillahirrohmanirrohim...
(Murni
ditulis ulang dari buku “Sungguh, Allah sangat merindukan kita” karya Abdush
Shobur dan Haifa Zahra Anggawie, penerbit
Quanta)
Hidup memang penuh dengan masalah. Mulai dari yang ringan
hingga yang sangat berat hingga membuat hati dan pikiran tak karuan, Mulai dari
bangun tidur hingga tidur lagi. Sepertinya setiap hari dihantui dengan
masalah-masalah. Mengingat masalah-masalah yang datang bertubi-tubi dalam
hidup, sepertinya kepala ini mau pecah, tak tahu harus lari kemana untuk
menghindari masalah-masalah itu. Serasa hati jenuh, terus menerus menemui
masalah yang tak kunjung ada habisnya.Sering kali kita mengharap kepada
saudara, teman, tetangga, atau siapa pun untuk membantu meringankan masalah
yang kita hadapi. Namun, sering kali juga kita dikecewakan oleh mereka,
ternyata mereka pun juga memiliki masalah sendiri.
Dari semua usaha-usaha yang kita lakukan untuk menyelesaikan
masala-masalah tersebut, sejenak mari kita merenungkan. Tenangkan hati dan
pikiran, regangkan otot-otot yang selama ini tegang, lepaskan semua beban-beban
yang ada, mari kita bertafakur dan bertadabur. Apa sebenarnya yang sudah kita
lakukan??Kenapa masalah-masalah ini tidak kunjung terselesaikan??Apakah
sebenarnya arti dari masalah itu??
Bisa jadi masalah-masalah yang kita jumpai adalah dampak dari
perbuatan dosa-dosa yang kita lakukan selama ini. Bagaimanapun kita berusaha
untuk keluar dari permasalahan, namun jika kita tetap melakukan perbuatan dosa,
maka usaha kita menjadi percuma saja.
Jika sebuah lantai basah ketika musim hujan karena atapnya
bocor, mau berapa kali kita mengelap dan berusaha mengeringkan lantai, akan
menjadi percuma ketika atapnya kita biarkan tetap bocor, kalau kata ILK
(Indonesia Lawak Klub), itu sama saja “mengatasi masalah tanpa solusi”.
Lebih parahnya lagi, ketika kita ditimpa berbagai macam
masalah, justru pertama kali yang didatangi untuk diminta pertolongan adalah
manusia yang sama-sama punya masalah. Apalagi sampai datang ke dukun untuk
minta pengasihan agar jodohnya segera datang, agar enteng rejeki, dan
sebagainya. Bukannya mengurangi dosa malah menambah dosa, Na’udzubillaah.
Mari sejenak kita berpikir dan mencari tahu, apa yang
sebenarnya menjadi definisi masalah itu. Apakah kesulitan-kesulitan yang kita
hadapi, masalah-masalah yang kita hadapi adalah masalah yang sebanarnya??atau
sesungguhnya masalah-masalah yang Allah SWT berikan adalah peringatan agar kita
kembali ke jalan yang diridhai-Nya. Jika dengan kemiskinan kemudian kita
kembali rajin sholat lima waktu, dengan memiliki utang kita semakin dekat
dengan Allah, dengan penyakit yang kita rasakan kita menjadi rajin sholat
malam, dengan tidak kunjungnya buah hati menjadi kita rajin sedekah, dan
seterusnya, bukanlah itu justru adalah anugerah???
Di sisi lain, jika kekayaan yang kita miliki membuat kita
lupa kepada Allah, kesempurnaan di dalam rumah tangga dengan memiliki istri
yang cantik dan anak-anak yang lucu membuat kita lupa untuk beribadah, jabatan
tinggi yang kita duduki membuat kita sombong, kesehatan dan kemudahan-kemudahan
lainnya kita gunakan untuk bermaksiat. Jika itu terjadi, maka apakah
kenikmatan-kenikmatan yang kita miliki adalah sebuah anugerah, atau
sesungguhnya justru itu adalah masalah??
Poinnya adalah bukan kaya atau miskinnya, senang atau
susahnya, dan seterusnya, tetapi segala sesuatu yang membuat kita lupa kepada
Allah, menjauhkan kita dari ibadah, dan mendekatkan kita kepada kemaksiatan,
maka itulah masalah yang sesungguhnya. Sebaliknya, anugerah tidak dilihat kaya
atau miskinnya, kesenangan atau kesedihan, dan sifat dunia lainnya, tetapi
segala sesuatu yang menjadikan kita semakin dekat kepada Allah, semakin rindu
kepada Allah, semakin cinta kepada Allah, dan semakin rajin dalam bertaqwa
kepada Allah.
Bukanlah hidup adalah ujian bagi orang-orang yang
beriman?Sedih dan senang, kesulitan dan kemudahan, tangis dan tawa, miskin dan
kaya, pejabat dan masyarakat biasa, dan seterusnya adalah ujian dari Allah
SWT..,yang diberikan kepada kita. Jika kita mampu menghadapinya dengan sabar
dan tetap bertaqwa kepada Allah SWT., dalam kondisi apa pun, maka itu adalah
sebuah kemenangan yang sejati.
Sering kali kita lebih senang di uji dengan kekayaan yang
melimpah, kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, dan sifat duniawi lainnya.
Namun, semua itu belum tentu baik untuk kita. Sebaliknya, kita tidak suka
dengan cobaan berupa kemiskinan, kesusahan, penyakit, dan sebagainya. Namun,
belum tentu itu juga buruk untuk kita, dan apa-apa yang buruk untuk kita.
Apa-apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah
baik. Tetapi sebaliknya, apa-apa yang menurut kita buruk, belum tentu menurut
Allah buruk. Maka, mari kita senantiasa berprasangka baik terhadap apa yang
telah diberikan Allah kepada kita. Sesungguhnya Allah SWT., sesuai dengan
prasangka makhluk-Nya.
Jika kita berprasangka buruk kepada Allah SWT., sesungguhnya
yang buruk adalah kita sendiri, dan itu adalah dosa besar. Namun, jika kita
berprasangka baik kepada Allah SWT., maka Allah akan memberikan jalan keluar
dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Allah SWT akan memberikan rahmat dan
kebahagiaan yang sesungguhnya kepada kita.Aamiin ya rabbal ‘alamiin
Dengan mengetahui definisi masalah dan anugerah yang
sebenarnya, maka kita akan semakin
bijaksana dalam menghadapi hidup ini. Dan tentu seharusnya ini dijadikan
sebagai bahan perenungan, apakah kita saat ini hakikatnya sedang ditimpa
masalah atau anugerah??Mudah-mudahan apapun yang telah diberikan Allah SWT
kepada kita membuat hidup kita semakin berkah, dan semakin dekat dengan-Nya
Tuhan Yang Maha Indah.
Jika Allah SWT telah memberikan kekayaan dan kecukupan di
dunia ini, mudah-mudahan kenikmatan membuat kita bersyukur kepada Allah. Dan
jika Allah SWT memberikan kemiskinan dan kekurangan di dalam hidup kita,
mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita orang yang senantiasa bersabar dan
bertaqwa kepada Allah. Namun, tentu saja kita menginginkan anugerah,
kebahagiaan, kekayaan, keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Mudah-mudahan kita semua menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dan bersabar.
Aamiin.
-Semoga
bermanfaat-
Nogosari, 21 Agustus 2015


